Dunia Sepak Bola Pontianak Berduka, Selamat Jalan Bang Ramin..

oleh
Foto Almarhum bang Ramin

PONTIANAK – Dunia persepak bolaan Pontianak berduka, Rahmin M Ali (68), Sekertaris PSSI Pontianak sekaligus official Persipon menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Sudarso Pontianak.

Pantauan B-onetv, Sabtu (23/9/17) di kediaman rumah duka, Gang Keluarga Bersama, Jalan Prof M Yamin, Kecamatan Pontianak Selatan, sejak pagi sudah ramai pelayat berdatangan.

Tokoh senior sepak bola Pontianak un tidak ketinggalan hadir, seperti pelatih Klub Sepak Bola Erkatude, Sugiarto, Metra, Ami Aziz, Bintang Timur, Abdurahman, Ketua Harian PSSI Kota Pontianak, Nanang Setiabudi, Manajer Persipon, Sidiq Handanu, serta pesepak bola muda Pontianak berada di sana.

Wajah duka tampak menyelimuti seluruh pelayat yang tiba di rumah bernomor 18 itu.

Usai memandikan jenazah sang ayah, Heri, anak ke tiga Bang Ramin (sapaan almarhum) menuturkan, jika sudah lama almarhum mengalami sakit.

“Dimana hasil pemeriksaan di Kucing, Malaysia,beberapa waktu lalu, divonis ginjal dan liver dan selanjutnya disarankan menjalankan operasi,” ungkapnya.

Operasi lanjut Heri, sudah dilakukan di Kuching. Sekembalinya ke Pontianak sebenarnya kondisi beliau sudah baikan. Perut sudah tak keras dan cairan yang membuat kakinya bengkak sudah mulai sembuh.

Namun, almarhum sempat dilarikan ke rumah sakit itu pada hari Minggu lalu.

“Bapak sore muntah darah. Kami (pihak keluarga) panik melihat darah terus bercucuran dari mulutnya. Bapak langsung dilarikan ke RS Antonius untuk mendapatkan perawatan,” ujarnya.

Dari pemeriksaan dokter, kondisi bapak sulit disembuhkan.

“Selain liver, ginjal dan beberapa penyakit lain menyerang tubuhnya,” kenang Heri.

Selain itu, karena RS Antonius tak menerima BPJS Kesehatan, keluarga sepakat memindahkan ke RS Sudarso. Hari pertama di rumah sakit milik pemerintah itu sebenarnya kondisi bapak sudah baikan. Muntah darah tak terjadi. Bahkan malam hari saat menjaga bapak sempat berbicara dan sesekali meminta bantu Heri untuk duduk.

Kondisinya menurun pada pagi harinya. Bapak tak sadarkan diri. Dokter mengambil langkah cepat dengan memindahkannya ke ruang ICU, karena bapak tak sadarkan diri.

“Bapak koma tiga hari. Pagi tadi, sekitar 07.30 bapak meninggal,” ucapnya dengan lirih.

Seperti diketahui, semasa pensiun dari Dinas PU, Bang Ramin semakin aktif di dunia sepak bola Pontianak. Bang Ramin muda dulu bermain di Klub Jumbo sebagai stopper. Saat di lapangan dia begitu ditakuti lawan-lawannya. Badannya yang kecil lincah dan gesit ketika di lapangan kerap merepotkan. Selamat jalan Bang Ramin, dunia sepak bola Pontianak kehilangan sosok pantang menyerah sepertimu. (Budi)