Berantas Sindikat Mafia Tanah di Palangka Raya

oleh
Suasana seminar nasional dan reuni akbar temu kangen alumni Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Tambun Bungai Palangka Raya

PALANGKA RAYA – Tanah menjadi isu penting yang dibahas dalam seminar nasional dan reuni akbar temu kangen alumni Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Tambun Bungai Palangka Raya, di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (23/09/17).

Namun sayang, dari pantauan di lokasi kegiatan yang mengangkat tema perlindungan hukum terhadap mafia dan kriminilisasi penguasaan hak atas tanah di Kalteng, hanya dihadiri sejumlah alumni dan peserta seminar saja.

Kendati begitu, tetap mendapat apresiasi dari Ketua Yayasan STIH Tambun Bungai Palangka Raya, Salundik, yang berharap dangan adanya kegiatan tersebut, dapat bermanfaat bagi semua khususnya camat maupun lurah yang selama ini, tak bisa dipisahkan dengan banyaknya pengaduan permasalahan tanah.

Salundik juga meminta agar para alumni dapat meluangkan waktu, untuk bisa menengok almamaternya, sehingga bisa membantu memberi sumbangsih saran demi kemajuan perguruan tinggi ini. Apalagi saat ini sudah terakredetadi B.

Eko Riadi, salah seorang alumni STIH Tambun Bungai Palangka Raya, yang merupakan inisiator kegiatan tersebut mengungkapkan, latar belakang sampai diangkat tema terkait tanah, karena dengan wacana pemindahan ibukota ke Palangka Raya, menimbulkan adanya sindikat mafia tanah yang bertugas mengincar tanah yang dianggap tak bertuan, untuk dikuasai agar bisa dijual kepada orang lain. Padahal tanah sudah diperkuat dengan sertifikat kepemilikan.

“Kami menginginkan BPN tidak asal menerbitkan sertifikat, agar tidak ada tumpang tindih tanah. Aparat kepolisian juga hendaknya dapat menindak tegas sindikat mafia tanah,” ujar Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palangka Raya ini.

Disisi lain, Rektor Institut Agama Islam Negari (IAIN) Palangka Raya, Ibnu Aspellu lebih menyoroti perkembangan almamaternya ini, yang mampu mencetak orang-orang hebat tetapi kemajuan kampus tidak signifikan.

Untuk itulah sebagai alumni, akan selalu membuka diri dan  memberikan kontribusi, jika STIH mau belajar strategi mengembangkan perguruan tinggi ini, agar bisa go nasional bahkan internasional.

Sementara itu Wakil Walikota Palangka Raya, Mofit Saptono Subagio, sangat menyayangkan jika STIH, yang notabene mencetak orang-orang yang mengerti hukum, tidak dapat mengamankan aset tanah miliknya.

“Saya berharap dengan adanya seminar ini kalau tidak dapat dijadikan semacam lampu merkuri paling tidak, sebagai lilin dalam kegelapan. Jangan sampai produk hukum dan sarjana hukum justru menjadi mafia ataupun bagian yang dikriminalisasi oleh tanah, yang membuat ketidakjelasan atas tanah,” imbuhnya. (TV)