Pupuk Langka, Petani di Kapuas Terpaksa Beli ke Kabupaten Tetangga

oleh
Ilustrasi - Pupuk

KUALA KAPUAS – Saat ini, keberadaan pupuk di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tenga mulai mengalami kelangkaan. Hal ini tentu saja menjadi keluhan bagi para petani yang keseharian bergantung dengan kebutuhan pupuk untuk bercocok tanam.

Wayan Sinda (43), salah seorang anggota kelompok tani di Desa Sidorejo, Kecamatan Tamban Catur Kabupaten Kapuas, Selasa (19/09/17) mengatakan, keberadaan pupuk jenis SP-36 mengalami kelangkaan, terlebih jika sudah memasuki masa tanam. Sehingga, akibat kurangnya pemupukan untuk untuk memupuk padi, mengakibatkan hasil produksi padi dalam kurun sekitar 4 tahun terahir ini berkurang.

Sehingga, agar dapat mempertahankan hasil produksi padi, para petani terpaksa harus mengeluarkan kocek lebih dengan membeli pupuk ke wilayah lain, agar bisa mendapatkan pupuk-pupuk tersebut.

“Yah mau apa lagi, daripada kami capek-capek menanam padi, namun hasilnya tak memuaskan, terpaksa kami membeli pupuk tersebut dari para tengkulak yang ada di Kabupaten Tetangga Batola (Kalsel). Namun harganya sangatlah jauh berbeda, dari hanya Rp120 ribu, bisa mencapai Rp200 ribu/karung,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Anjono Bhakti melalui Kabid Sarana Prasarana, Yaya menerangkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan provinsi, terkait kurangnya kesediaan pupuk yang ada di Kabupaten Kapuas.

Dirinya juga tidak menampik akan keluhan yang disampaikan para petani, namun hal ini dikarenakan alokasi pupuk yang direalisasikan ke Kapuas hanya berkisar antara 37 sampai dengan 65 persen saja.

“Padahal sebagaimana RDKK yang disampaikan para Gapoktan, sepenuhnya harus terealisasi, namun kenyataan hanya separuhnya saja,” tuturnya.

Misalnya untuk permintaan pupuk jenis Urea, sebagaimana RDKK Gapoktan yakni sebesar 8.185.080 kg, hanya terealisasi sebanyak 5.320.000 kg saja, SP-36 dari 3.982.393 kg, yang sampai hanya 1.498.000 kg , NPK dari 4.526.929 kg realisasinya hanya 2.085.000 kg dan yang terakhir pupuk jenis Organik dari 720.535 kg realisasinya hanya 350.000 kg.

“Kami akui untuk distribusi pupuk yang diperlukan para petani di Kapuas hampir semuanya masih belum memenuhi. Padahal kami juga sudah berupaya untuk melakukan pemenuhannya. Namun karena kesemuanya ada di provinsi, kita yang di kabupaten tidak bisa berbuat banyak, sebab untuk pemesanan harus melalui jalur prosedur yang  ada, tidak bisa asal pesan,” pungkasnya. (nad)