YIARI Lepas Tiga Orangutan ke Habitatnya

oleh
Petugas YIARI ketika melepas salah satu orang utan ke habitatnya

PONTIANAK –  Tim medis YIARI memastikan, tiga orangutan yang dilepas ke habitatnya, sudah dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit.

“Kondisi mereka bagus semua. Pinoh dan Laksmi menunjukkan perilaku alami. Kami yakin mereka akan senang di rumah barunya. Bahkan, kondisi sangat sehat dan kemampuan hidup di alam bebasnya sudah tidak perlu diragukan lagi, karena dia memang orangutan liar,” ungkap Koordinator medis IAR Indonesia, drh. Sulhi Aufa,  dalam press releasenya, Senin (18/09/17).

Program Director IARI, Karmele mengaku sangat besyukur dengan adanya warga Mawang Mentatai dan Dusun Nusa Poring, yang membantu IARI membawa kandang orangutan menuju titik pelepasan.

“Mereka dengan luar biasa membantu kami membawa kandang seberat itu, melewati gunung dan sungai sejauh leabih dari 9 kilometer di dalam hutan. Tanpa mereka, kami tidak akan bisa melakukan kegiatan pelepasliaran ini,” katanya.

Setelah melalui perjalanan selama 57 jam, Tim mencapai titik pelepasan pada pukul 1 siang dan segera melepaskan orangutan Abun. Abun hanya perlu waktu berapa detik sebelum dia keluar dari kandang. Dia memanjat pohon yang paling tinggi, melihat ke bawah dan langsung mengambil buah hutan dan mulai makan.

“Hal yang paling menyenangkan adalah ketika melihat orangutan kembali pada habitatnya di alam bebas,” ujar Uray Iskandar, stap BKSDA Kalbar menambahkan.

Uray Iskandar menjelaskan, orangutan merupakan salah hewan yang prestisius dimiliki oleh Indonesia untuk itu merupakan kewajiban kita untuk menjaga kelestariannya baik orangutan maupun tempat habitatnya.

Selanjutnya tim melanjutkan berjalan kaki selama 5 jam menuju titik pelepasan Pinoh dan Laksmi. Perjalanan ini cukup sulit melalui sungai, gunung dan halangan lainya. Pinoh dan Laksmi dilepaskan pada pukul 5 sore setelah hampir 3 hari dalam perjalanan.

IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring yang akan memonitor orangutan ini mulai dari bangun dari sarang di pagi hari sampai kembali membuat sarang di sore hari.

Kegiatan monitoring ini penting untuk memastikan kesehatan dan keselamatan orangutan pasca pelepasliaran. Kegiatan pelepasan orangutan di TNBBBR sudah dilakukan sejak tahun 2015. Total orangutan yang sudah dilepaskan di TNBBBR adalah 17 individu yang terdiri dari 9 orangutan rehab dan 8 orangutan liar. Abun merupakan orangutan ke 5 yang dilepaskan di habitat aslinya di Kawasan TNBBR selama kurun waktu 2017.

“Kegiatan ini guna meningkatkan kelestarian satwa Orangutan di habitat aslinya,” papar Uray.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih menjadi tempat pelepasliaran orangutan karena hutannya yang masih alami dan bagus. Survey dari tim IAR Indonesia menunjukkan jumlah pohon pakan orangutan yang berlimpah.

Selain itu statusnya sebagai kawasan taman nasional akan lebih mampu menjaga orangutan ini dan habitatnya sebagai kawasan konservasi, karena Pinoh dan Laskmi adalah orangutan rehabilitasi. Dari kajian yang pernah dilakukan juga oleh tim expert dari YIARI, di lokasi TNBBBR resort Mentatai yang menjadi lokasi pelepasliaran orangutan, tidak ditemukan keberadaan orangutan dan dinyatakan orangutan telah punah dalam 20-30 tahun terakhir. Oleh karena itu upaya untuk pelepasan orangutan sangat penting sekali.

Toto, petugas fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di SPTN I Nanga Pinoh mengapresiasi kegiatan ini. Dia mengatakan, kegiatan reintroduksi yang dilakukan di kawasan TNBBBR ini sudah berjalan baik dan juga sudah dilakukan kajian kawasan yang cukup matang.

Ia berharap ke depannya akan ada kajian lebih lanjut untuk mengambil manfaat dari keberadaan orangutan di dalam kawasan bagi masyarakat sekitar.

Ia mengungkapkan, YIARI juga berkomitmen untuk memberi pendampingan kepada masyarakat dari Nusa Poring dan Mawan Mentatai agar bersama bisa melestarikan hutan dan orangutan, dan mengelola hutan secara berkelanjutan.

“Dengan menjaga orangutan, hutan dan masyarakat di sekitar TNBBBR kita bisa memberi keseimbangan antara alam dan manusia karena dua2nya saling membutuhkan,” pungkasnya. (Rossi Yulizar)