Angin Kencang, Nelayan Kotabaru Enggan Melaut

oleh
Puluhan kapal nelayan yang tidak berani melaut karena kondisi cuaca tidak memungkinkan

KOTABARU – Sudah menjadi langganan bagi kalangan nelayan, setiap tahunnya saat musim angin kencang, mereka tidak turun ke laut untuk mencari tangkapan ikan dan hasil laut lainnya. Seperti halnya yang dihadapi nelayan Desa Sarang Tiung, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Salah seorang nelayan asal Desa Sarang Tiung, Kecamatan Pulau Laut Utara, Abdul Mulud mengatakan, dengan kondisi angin seperti saat ini, pastinya para nelayan tidak berani turun untuk mencari tangkapan ikan dilaut karena ombak besar.

“Ini sama saja seperti halnya paceklik, karena penghasilan kami sebagai nelayan, sama sekali tidak ada,” ungkap pria yang biasa dipanggil Oyong, saat berbincang kepada wartawan, Jumat (15/09/17).

Kendati demikian, beberapa orang nelayan yang memberanikan diri turun ke laut, namun hasil yang diperoleh sangat mengecewakan.

“Biasanya kalau dihari-hari normal, kami mampu mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 20 kg, tapi sekarang justru nihil dan kondisi seperti ini diperkirakan berlangsung hingga bulan Oktober 2017,” tambahnya.

Ia menyadari, dengan musim angin kencang tentunya pendapatan nelayan tidak sebanyak di saat musim normal. Dalam waktu satu bulan biasanya nelayan turun ke laut hanya 20 hari saja, sementara sisanya untuk waktu istirahat.

Jika dihitung dalam satu tahun, maka optimalnya kerja nelayan di laut kurang lebih sekitar 6 bulan, mengingat ada kalanya musim angin kencang disertai ombak besar dan pada saat bulan bersinar terang, sehingga nelayan tidak turun, begitu juga dengan para nelayan Bagan.

“Mudah-mudahan, kondisi ini cepat berlalu dan kami juga dari kalangan nelayan dapat kembali beraktifitas dilaut seperti biasanya,” harapnya.

Berdasarkan pantauan di Pasar Kemakmuran Kotabaru, di lapak pedagang ikan, hanya sebagian dari mereka yang menjual ikan. Namun harga yang dibandrol lebih mahal dari biasanya. Begitu pula dengan pedagang sayur keliling, yang biasa menggunakan sepeda motor roda dua, untuk harga ikan yang dijual mengalami kenaikan seperti, Ikan Peda berukuran besar yang biasanya dijual Rp15 ribu untuk 2 ekor, dan saat ini dihargai Rp25 ribu.

“Naiknya harga ikan disebabkan angin kencang, sehingga nelayan jarang ada yang turun ke laut,” ungkap Nanang, salah seorang warga Gunung Sentral menambahkan. (Yhoz)