Korban Banjir Bandang Butuh Bantuan Dana

oleh
Banjir bandang di Ketapang. FOTO : prokal.co

PONTIANAK –  Saat ini, masyarakat yang menjadi korban banjir bandang di kawasan Sungai Jelai, Kecamataan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sangat membutuhkan bantuan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang rusak karena diterjang banjir bandang akhir Agustus lalu.

Untuk itu, Direktur Dayakologi Kalbar, Benyamin Efraim meminta kepada pemerintah maupun pihak perusahaan, untuk bertanggungjawab atas musibah atau bencana ekologis di Tanjung Jelai tersebut.

“Perusahaan dan pemerintah harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut, yang hingga saat ini belum ada. Pemkab Ketapang hingga saat ini hanya sekedar melihat bencana sebagai bencana biasa,” katanya, Selasa (12/09/17).

Padahal, sejak puluhan tahun ini, belum pernah terjadi banjir bandang di kawasan itu.

“Banjir bandang di Sungai Jelai ini, baru pertama kali terjadi, padahal sewaktu itu hujan tidak terlalu lebat, tetapi banjir tiba-tiba terjadi, sehingga menghanyutkan tujuh rumah, dan enam rumah rusak berat,” ungkapnya setelah dirinya turun langsung ke lapangan.

Menurut informasi di lapangan, banjir bandang tersebut terjadi di hulu Sungai Jelai, yang sewaktu kejadian ketinggiannya setinggi dada manusia, tetapi sorenya sudah tidak ada lagi banjir karena turun ke hilir sungai.

Ia menambahkan, hal tersebut menandakan, bahwa hutan penyangga yang selama ini terawat di hulu Sungai Jelai sudah rusak akibat perambahan, baik yang dilakukan oleh perusahaan HTI (hutan tanaman industri), perkebunan, maupun pertambangan.

“Bencana ekologis sudah terjadi dan akan terus mengancam mansyarakat sekitar, tetapi hingga kini perusakan hutan dan tanah terus berlangsung, sehingga harus ada pertanggungjawab dari yang telah merusak dan dari negara,” katanya.

Menurut dia, eksploitasi hutan oleh perusahan yang bergerak dibidang HTI di hulu Sungai Jelai sudah beroperasi dua hingga tiga tahun.

“Mereka menanam pohon, yang menjadi masalah mereka membabat hutan yang selama ini menjadi hutan penyangga sehingga merusak lingkungan di kawasan hulu sungai, akibatnya terjadi banjir bandang yang membawa lumpur dan pasir beberapa waktu lalu tersebut,” pungkasnya. (Andi)