Musim Kemarau, Kabupaten Kotabaru Mulai Alami Kekeringan

oleh
Foto: Salah satu Waduk di Kotabaru yang mulai alami kekeringan dan debit air mulai mengering.

Kotabaru – Dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat Kotabaru, Kalimantan Selatan.

“Berapa hari ini bisa kita rasakan kondisi di Kotabaru, pada siang hari panasnya terasa menyengat dan pada malam hari hawa dingin hingga menusuk sampai ke tulang,” ujar Latifah salah satu warga Kotabaru kepada B-OneTV.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah kerja Kabupaten Kotabaru, Cucu Kusmayancu, Kamis (7/9) menerangkan berdasarkan prakiraan cuaca musim kemarau khususnya di Kabupaten Kotabaru sudah mulai masuk sejak pertengahan bulan Agustus 2017 lalu.

“Alhamdulillah, meskipun kemarau sudah mulai pertengahan Agustus lalu karena masih ada hujan sehingga masyarakat Kotabaru masih merasa sejuk,” paparnya.

Kata dia, musim kemarau dapat dilihat dari curah hujan di bawah standar atau kurang dari 50 mm, dalam artian dalam curah hujan selalu berada di bawah angka yang ditetapkan.

“Misalkan saja pada dasarian pertama ada hujan yang turun namun di bawah standar kemudian begitu juga pada dasarian kedua dengan kondisi yang sama maka itu masuk musim kemarau. Apabila dalam dua dasarian tersebut curah hujan yang turun melebihi dari 50 mm maka itu masuk musim hujan,” jelasnya.

Prakiraan tersebut, lanjutnya lagi, tepat dan sesuai dengan yang dikeluarkan oleh stasiun Klimatologi Banjar Baru dan berdasarkan perkiraan musim kemarau akan berlangsung hingga bulan Oktober 2017 di Kotabaru.

Pada kesempatan lain, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kotabaru Noor Ipansyah menjelaskan pihaknya terus berupaya menyediakan ketersediaan air bersih di masyarakat meskipun sudah memasuki musim kemarau.

“Intinya sekarang sudah mulai kemarau berdasakan data dari BMKG dengan curah hujan sudah mulai menipis, dan kami juga dari PDAM pastinya mempersiapkan langkah-langkahnya agar pemenuhan air bagi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” katanya.

Untuk itu hampir di semua lokasi penampungan sumber mata air PDAM sudah mulai terjadi penurunan debit air seperti di daerah Mandin, Gunung Ulin, Tirawan dan Gunung Sari. Akan tetapi, berkenaan dengan waduk Tirawan yang sudah mulai bisa dioperasikan pastinya mampu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di dua daerah yakni Hilir dan Kotabaru Tengah.

“Alhamdulillah dengan adanya waduk Tirawan sangat membantu untuk daerah Hilir dan Kotabaru Tengah, setidaknya dapat mendistribusikan air bersih di masyarakat tersebut,” pungkas dia. (yhoz)