KONI Kotabaru Gelar Aksi Penggalangan Dana di Jalan

oleh
Foto: Aksi atlet menggalang dana untuk keberangkatan Porprov 2017

Kotabaru– Dunia olahraga khususnya di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan berduka lantaran tidak adanya kejelasan ratusan atlet yang akan mengikuti event 4 tahunan yakni Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke – 10 yang akan berlangsung di Kabupaten Tabalong.

Padahal, atlet Kotabaru jelas diperhitungkan dalam mengikuti berbagai kejuaran olahraga bukan hanya di Provinsi Kalimantan Selatan saja melainkan sampai ke tingkat nasional.

Rabu (06/09), sekitar pukul 16.00 wita perwakilan seluruh Cabor melakukan penggalangan dana di  4 titik berbeda di kawasan lampu merah Irama, lampu merah depan Mapolres, lampu merah pasar Limbur Raya dan di depan kantor Sekretariat DPRD dari anak-anak hingga orang dewasa.

Bahkan, terlihat Ketua Umun KONI Kotabaru Zulkifli AR langsung turun ke jalan untuk memantau jalannya penggalangan dana yang dilakukan oleh perwakilan cabang olahraga (Cabor) dan bukan hanya itu saja jajaran drum band anak-anak dari SDN Dirgahayu 2 juga meramaikan penggalangan tersebut. Hingga pukul 18.00 wita aksi berakhir, di hari pertama mendapatkan bantuan dari masyarakat Kotabaru sekitar Rp 8.315.000.

Ketua Umum KONI Kotabaru Zulkifli saat diwawancarai sejumlah awak media mengatakan bahwa, aksi tersebut dilaksanakan karena di DPRD Kotabaru tidak ada kepastian kontingen Kotabaru ikut atau tidak dan kalau hanya sebatas informasi saja pihaknya sudah jenuh mendengarnya.

“Faktanya adalah di APBD Perubahan sampai sekarang tidak jelas juga kapan disahkan dan kalau disahkan sampai bulan Oktober 2017 tentunya sangat tidak mungkin,” cetusnya menyayangkan.

Menurutnya, aksi yang digelar untuk melihat bagaimana respon masyarakat Kotabaru agar mempunyai rasa peduli dengan daerah atau rasa malu daerah dengan tidak mengikuti Porprov bagi para atletnya.

Lebih jauh disampaikan olehnya, Selasa malam (05/09) pihaknya rapat bersama kalangan Cabor dan muncul gagasan untuk turun ke jalan dan kemudian kembali digelar rapat pemantapan yang dihadiri 17 cabor dan 13 cabor diantaranya siap turun untuk berpartisipasi dalam melakukan penggalangan dana.

“Ada 30 cabor yang akan ikut Porprov nanti, dan jawabannya ada di DPRD dan eksekutif bukannya di KONI, yang jelas kami jenuh dengan janji-janji belaka namun faktanya tidak jelas. Aksi ini akan digelar sampai hari Minggu besok mulai pukul 16.00 – 18.00 wita,” tambahnya.

Berkenaan dengan masalah anggaran yang dipersiapkan hanya sebesar Rp4 miliar sementara permintaan awal KONI mencapai Rp12 miliar dengan perhitungan yang ada, dan ini merupakan gelar Porprov ke – 10 yang sebelumnya 9 kali Kotabaru tidak pernah absen mengirimkan atlet. Kemungkinan besar Senin besok pihaknya akan kembali menyampaikan aspirasi ke DPRD meminta pernyataan tertulis untuk jadi berangkat.

“Kita berpikir secara realistis saja, kita pernah menjadi tuan rumah Porprov dan menyiapkan anggaran sebesar Rp 30 miliar dan pada saat kita mengikuti Porprov ke-9 di Kabupaten Banjar disediakan anggaran Rp 11 miliar dan ditahun 2017 di selenggarakan di Tabalong dan kita meminta Rp 12 miliar namun itupun tidak jelas. Kalau pun tidak berangkat bukan kami ataupun cabor yang menanggung malu melainkan Pemerintah Daerah,” jelasnya kemudian.

Salah satu pegiat olahraga senior Kotabaru Abdul Kadir Jailani (68) peraih beberapa medali emas pada cabang atletik sangat menyayangan dan ia mengaku miris melihat kondisi sampai KONI bersama hampir seluruh Cabor turun ke jalan menggalang dana.

“Melihat ini saya sangat prihatin dan miris pastinya jangan sampai justru menjadi kemunduran bagi dunia olahraga dan atlet di Kotabaru, padahal atlet kita diperhitungkan bagi daerah lain,” ujarnya.

Begitu juga dengan Santi, peraih beberapa medali dan mengharumkan nama daerah dalam turnamen panjat dinding menyatakan kekecewaannya melihat sampai KONI dan atlet turun ke jalan meminta sumbangan kepada setiap pengendara yang melintas dan itu suatu pemandangan yang kurang sedap dipandang.

“Sudah berapa kali saya ikut Porprov dan membawa nama harum daerah dan hari ini merupakan sejarah yang harus di ingat dengan baik,” ujarnya dengan nada kecewa. (yhoz)